Siapa yang mengira di era yang penuh kejutan setelah pandemi ternyata kami berdua (bersama suami) harus berjibaku dengan bisnis yang tidak tahu arahnya kemana. Kalau dahulu, saat sebelum pandemi kami sangat dengan mudah bisa memilah dan memilih bisnis mana yang menguntungkan dan mana yang tidak, bisnis yang tidak memberikan kontribusi bisa segera di kick. Bahkan bisnis yang terbilang receh pun saat itu bisa dipilih dan bisa menjadi besar sampai sekarang. Berbeda dengan sekarang, setelah pandemi bukannya menjadi lebih baik, namun terjadi penuruan yang luar biasa, hingga pertanyaan tentang duluan mana “brand atau selling” ini pun membuat kami harus mencari cara apakah menggenjot penjualan atau dengan serta merta mempertahaankan nama dengan melakukan diversifikasi bisnis lainnya.

Brand atau Selling, Sebuah Esensi dalam Bisnis

Dalam kondisi skarang, mempertahanakan bisnis menjadi hal yang luar biasa, bahkan yang dulunya sebelum pandemi omset bisa naik hanya dengan mengenalkan produk baru, tetapi kini berbagai cara sudah dilakukan hingga memberikan diskon sampai dengan beli 2 dapat 1 itu pun masih belum bisa menaikkan range omset, apalagi profit.

Duluan Mana “Brand atau Selling”?
Gambar ilustrasi

Saya sedikit menemukan sentuhan marketing saat bersama suami membuka salah satu post mas Rifki Ali Hamidi di Facebook, tentang brand atau selling ini, sebagai berikut:

Menurut mas Rifki, antara brand atau selling, mana yang harus didahulukan? maka jawabnya adalah dua-duanya itu satu paket yang harus dilakukan.

Beliau menjelaskan sebagai berikut:

 Pembelian pertama, mereka (para konsumen) membeli karena persepsi yang terbentuk dari melihat :

  • Review
  • Rating
  • Rekomendasi
  • Kredensial

VS Janji-janji Anda sebagai penjual  di iklan.

Mereka beli bukan karena produk Anda beneran bagus tapi karena mereka berpikir “okay lah pantas dicoba”

Fase ini disebut FMOT alias “first moment of truth

Pembelian kedua ?

Mereka make sure  “value anda konsisten

“Anda masih menepati janji !”

Masih okay ga nih kayak kemaren ? Gitulah kiranya

Fase ini disebut SMOT alias “second moment of truth”.

Nah, mulai paham kan ?

Jadi gini, strategi digital marketing kebanyakan, jago membuat fase pertama. Blar blar blar jual banyak!

Jika niatan mau ngegas ginian, ga perlu strategi brand. Cukup jualan dan make a powerfull promises, reviewnya nendang. Laris !

Namun, jika anda serius membangun sebuah brand di internet. Yang membuat repeat order anda besar dan rutin, sehingga cost advertising anda jadi mengecil.

Maka, make sure ZMOT-FMOT-SMOT ini terlewati dengan baik, karena standar akuisisi pembeli sebenernya setelah lepas dari semua itu.

Barulah masuk pengklasifikasian pelanggan dari satisfied ke advocate. Strategi horizontal boleh gas kenceng (menambah jumlah pembeli baru), TAPI,

Strategi vertikal juga harus berjalan (menambah transaksi dari database pembeli), karena cuannya disini tuh. Jadi yang terbiasa gas2an diawal, tetep gas aja!

Tinggal anda tambahkan fungsi baru di bisnis anda untuk ngurusin strategi vertikalnya. Jika membangun brand di internet.

Kesimpulan

Dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan, apakah faktor BBM yang naik atau turunnya daya beli, mungkin beberapa hal yang disampaikan mas Rifki tersebut juga berlaku dalam bisnis Saya. Setidaknya hal ini memberikan insight bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan dalam bisnis.

0 Komentar